Thoughts on ... (Ep: Nikah? )
Lebaran telah usai tapi pertanyaan "kapan nikah?" selalu menjadi menu wajib saat ada kumpul keluarga mulai dari keluarga dekat seperti tante, om, sepupu 1x, sepupu 2x, sampai yang mengaku keluarga, begitu pun juga saat acara reuni teman sekolah SD, SMP, SMA atau reuni dengan teman saat kuliah dulu wah banyak yang suka heboh melontarkan pertanyaan "kapan nikah?" dan untuk kesopan-santunan dan segala tata krama patutlah dijawab sambil tersenyum "didoakan saja" dan seakan memang orang yang belum nikah itu harus dibombardir banyak pertanyaan agar terlihat kengenesannya, setelahnya bakal ditanyain "tapi sudah ada calon kan?", "loh, kok bisa belum ada calon? padahal umur kamu kan sudah matang", "pasti suka pilih-pilih ya?", atau kalau dijawab sudah ada calon bakal ditanyain "kenapa calon kamu belum juga datang melamar? dia serius kan?", "kerjanya apa?" "nikah itu ibadah loh jangan kelamaan, tidak bagus kalau perempuan telat nikah, calonnya suruh cepat ngelamar". Tapi, masih ada yang lebih nyesek sih dari pertanyaan-pertanyaan tadi... "oh kamu lanjut S2, padahal bagusnya pas kamu nikah saja, biasanya susah loh kalau perempuan sekolahnya terlalu tinggi, laki-laki biasanya jadi takut" - for God sake, orang kok mulutnya tidak diayak dulu, ngomong tanpa berpikir sama sekali dan makin nyesek kalau yang ngomong adalah keluarga dekat atau orang terdekat. Kenapa sesusah itu untuk tidak mengeluarkan perkataan-perkataan yang tidak menyakiti hati kalau memang berat cobalah untuk diam saja, kalian tidak tahu ya omongan yang kalian kira itu biasa yang mungkin kalian pikir malah bercanda tidak ada unsur menyakiti malah berhasil menyakiti dan membuat insecure bagi mereka yang tidak percaya diri dan cenderung memikirkan omongan orang, tidak hanya melukai tapi juga membunuh karakter dan kepercayaan diri, dan seratus kali lebih sakit karena bisa menjadi luka batin.
Entah yang salah memang society di masyarakat sehingga menuntut banyak orang atau karena kampanye-kampanye yang terlalu meromantisasi dan mengglorifikasi soal pernikahan yang membuat perspektif sebagian besar orang Indonesia seakan kalau keberhasilan yang paling tinggi adalah menikah. Saya tahu bahwa nikah adalah penyempurnaan ibadah dan juga ibadah terpanjang yang dilakukan selama hidup sehingga ganjaran pahala besar berupa surga diberikan bagi mereka yang menunaikan dan menjalankannya dengan baik, tapi kalau sampai memandang rendah atau menyudutkan orang-orang yang belum punya niat menikah mboh ya pikiranmu dan dirimu yang salah itu tolong dilurusin dulu lah. Nikah itu bukan cuma sekedar tinggal seatap bersama suami-istri apalagi cuma buat menghindari yang namanya zina, dangkal banget itu kalau alasan cuma buat menghindari zina makanya nikah. Nikah itu bukan perkara biar zina menjadi halal lebih dari itu menyatukan karakter berbeda, menyatukan prinsip yang berbeda, menyatukan pola pikir yang berbeda, lebih kompleks lagi menyatukan dua kelurga. Nikah itu harus siap bukan hanya fisik tapi juga psikis maupun ekonomi, dikira kalau sudah nikah itu bakalan kayak cerita-cerita di kartun Disney yang terus happily ever after - kurang-kurangilah itu menganggap hidup seperti dongeng belaka.
Nikah butuh banyak pertimbangan, terlepas dari nikah yang paling penting harus ada calonnya - yaiyalah memang harus ada calon mau nikah sama siapa kalau calon mantennya tidak ada (Oke ini jayus :( ) kamu harus tahu dululah calon kamu ini orangnya gimana lihat dari bibit, bebet, bobotnya, penting sekali itu. Bibit adalah dia berasal dari keluarga mana bukan dia harus dari keluarga darah biru juga tapi maksudnya tahu latar belakang keluarga calon itu perlu karena kamu bisa tahu bahwa calonmu dibesarkan dari keluarga seperti apa, dididik oleh siapa dan bagaimana. Bebet itu lebih menitikberatkan pada kemandirian, kesanggupan dalam berumah tangga, independen yang nantinya tidak lagi merepotkan orang tua dalam berumah tangga. Bobot itu kualitas diri yang terdiri dari keimanan, pendidikan, pekerjaan, perilaku, attitude. Penting sekali untuk mengetahui itu semua kalau akhirnya dibilang pilih-pilih banget sih jadi perempuan... duh, realistis itu perlu! hidup rumah tangga bukan cuma soal ada suami-istri-anak huhuhu kita perlu penunjang dalam menjalankan roda rumah tangga, tidak hanya "cinta, kasih sayang, kepercayaan, komunikasi" tapi juga "pendidikan, finansial, kecerdasan, kematangan emosi, spiritual, attitude" tujuan berumah tangga lainnya kan untuk memiliki keturunan, gimana mau mendidik keturunan dengan baik dan ideal kalau diri sendiri belum berhasil ideal sesuai dengan yang kalian inginkan. Ideal bukan artinya sempurna tapi ideal yang saya maksud disini adalah yang tahu porsi dari tanggung jawab sebagai suami dan istri. Jadi yang ideal maka dibarengi dengan pribadi yang memang sudah siap, perempuan mencari laki-laki yang bibit-bebet-bobot yang baik maka sepatutnya perempuan juga mempantaskan diri jangan mengharapkan mendapatkan sosok laki-laki luar biasa kalau perempuannya terlalu biasa, selayaknya cermin maka apa yang tercermin merupakan refleksi dari tampilan diri, sama halnya laki-laki hebat maka selalu ada perempuan hebat didalamnya. so, kalau suami dan istri sudah berhasil ideal maka anak bisa memahami perannya dan ideal sesuai perannya.
Saya mau sekedar mengutarakan pikiran-pikiran saya yang suka overthinking ini, suka kesal kalau selalu ditanyain "nikah iss teman kamu yang seumuran malah sudah gendong anak" ya saya juga pastinya mau nikah tapi tidak sekarang juga, mimpi-mimpi saya masih banyak yang mau saya lakukan di waktu saya masih sendiri ini, "memang kalau nikah mewujudkan mimpi kamu itu susah ya kan enak ada suami yang mendukung" atau "jadi orang jangan terlalu berambisi banget lah iss masih muda, enak loh itu berumah tangga" saya cuma hehehe saja toh mau saya jawab juga pastinya orang-orang seperti itu tetap kekeuh kan dengan pandangannya jadi ya sudah saya selalu bilang "iya doakan ya bisa nyusul kamu" daripada saya malah jadi emosi jiwa :(. Saya sebagai kaum minoritas ditengah maraknya kampanye-kampanye nikah muda dengan banyak massa ya memang harus tahan-tahan saja dengar orang-orang yang suka romantisasi cerita nikahan mereka, walaupun saya suka sedih karena pelaku-pelakunya kebanyakan memandang nikah seperti yang saya sebutkan diatas agar tidak menjadi zina hmmm okay.. beberapa teman yang dulunya sesenang dan sebangga itu nikah muda dan menjadi mamah muda (mahmud) akhirnya harus merasakan jadi janda muda juga, yang bikin sedih karena mereka nikah muda dengan mengorbankan sekolahnya setelah cerai jadi bingung anak mau dikasih makan apa, ijazah tidak ada, skill juga nothing dan yang jadi korban sudah pasti anak.
Romantisasi dan glorifikasi tentang nikah itu harusnya dibarengi dengan memberitahukan dengan "kesiapan segala hal" hehehe jadi yang belum siap di beberapa segi yang saya sebutkan diatas tadi ya mungkin bisa dipertimbangkan kembali, meng-upgrade diri dulu menjadi lebih baik agar tidak ada penyesalan setelahnya, romantisasi dan glorifikasi nikah muda saat ini paling marak memang di media sosial, beberapa orang-orang yang beken meng-kampanyekan, orang-orang ini punya massa yang tidak sedikit sehingga mudah sekali menjadi panutan sebagai life goals atau couple goals. Sebagai orang biasa yang memang kudu banting tulang dan kerja lembur bagai kuda dulu biar menjadi life goals sesuai harapan nusa dan bangsa, saya cuma senyum-senyum saja bacain komen-komen yang mengagungkan panutan-panutan mereka itu, mbok ya mereka itu sudah ada privillege gituloh, sama halnya kalau kalian itu anaknya old money atau konglomerat yang punya privillege sehingga menaklukan dunia semudah membalikkan telapak tangan mah it's okay, tapi kalau bukan ya kamu mau kasih makan apa keluarga kamu itu apalagi kalau kamu tidak memiliki financial support yang jelas, baik dan permanen yang hanya mengandalkan harta orang tua, apalagi jika sudah ada anak itu mah sama saja menambah beban hidup orang tua :(. Maafkan saya malah jadi misuh-misuh dan sambat terus jatuhnya huhuhu mau kasih tahu juga kenapa nikah itu harus benar-benar mikirin segala aspek, biar tidak ada yang namanya gagal nikah a.k.a cerai. Tahu tidak kenapa angka perceraian di Indonesia semakin tinggi, faktor yang sering menjadi masalah terhadap perceraian ya masalah ekonomi, nikah cuma modal cinta bisa bahagia itu bullshit! faktor lain dari gagalnya adalah kematangan emosi tidak sedikit yang bercerai karena perselisihan yang akibatnya menjadi pertengkaran dan terjadilah yang namanya KDRT, pemicunya ya tidak jauh juga dari faktor ekonomi.
Terus saya dimisuhin balik dong "alah, memang dengan finansial oke bakal jamin bahagia dunia-akhirat, itu artis banyak yang cerai padahal kaya-raya.. mereka cari apalagi?" iya.. iya.. benar selalu ada alasan orang-orang akhirnya memilih bercerai, tapi meminimalisir kan perlu, cerai karena faktor ekonomi itu jadi faktor utama loh tolong perhatikan tulisan pada gambar yang saya masukkan diatas, setidaknya kalau cerai pun (amit-amit) anak harus tetap aman dan tidak semakin kekurangan, karena anak sudah menjadi korban. Saat sudah memiliki anak prioritas kita sudah pasti anak, menjadi ideal sesuai peran itu harus, anak tidak akan merasa menjadi korban jika anak merasa cukup karena peran orang tuanya memang ideal dalam menjalankan tanggung jawabnya. Jadi, nikah bukan hanya sekedar akad dan resepsi, nikah itu ibadah dan tanggung jawab seumur hidup.
Hhmmm... panjang juga ini saya curhatnya hehe tapi akhirnya saya bisa tenang dan lega setelah mengeluarkan pikiran-pikiran saya yang selama ini menjadi unek-unek dalam diri saya sendiri, sebelum mengakhiri curhatan yang panjang ini mau nambahin sedikit. Siapapun pasti ingin nikah. Impian setiap orang bisa menikah dengan orang yang dicintai dan bisa menua bersama bahagia dunia-akhirat. Urusan jodoh sudah diatur Tuhan, ada yang cepat, ada yang masih dalam proses pencarian, tidak usah nyuruh-nyuruh orang nikah walau tujuan kalian baik sekalipun karena nikah itu bukan ajang perlombaan yang membuat yang cepat nikah sebagai pemenang, setiap orang punya golden time dan moment-nya masing-masing. Menikah bukan karena tuntutan society apalagi buat mengikuti omongan orang yang ada malah bikin stres karena omongan orang kalau diikuti tidak ada habisnya, menikahlah karena memang sudah siap dan sanggup membina rumah tangga. :)




Komentar
Posting Komentar