A Book A Month: October (Laut Bercerita)

 



Identitas Buku

Judul Buku           : Laut Bercerita

Penulis                  : Leila S. Chudori

Jumlah Halaman   : 379 Hlm 

Penerbit                 : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)

Tahun Terbit          : 2017

Kota Terbit             : Jakarta


(Ini bukan mau resensi buku, cuman mau cuap-cuap doang sih, tapi alangkah lebih afdol sebelum saya bercuap-cuap ria, kenalan dulu lah sama sumber yang bakal di omongin hehe biar lebih bermakna. Kan ada pepatah yang mengatakan, tak kenal maka tak sayang).


Okay, Let's check this out!


Saya sering tergugu pada sebuah cerita yang menyayat hati, rasa yang membelenggu hingga sukar diucapkan. Hanya pada keyakinan dan keteguhan yang mengubah nelangsa menjadi sebuah ketabahan.

Kisah dramatis tentang tokoh yang berada pada ambang kematian dan secercah harapan, yang kata Ibu saya, "membaca kisah memilukan hanya membuat gelisah" dan yah, saya gelisah dan bodohnya malah hampa dan merasa ngilu setelah selesai menamatkan cerita dari buku "Laut Bercerita"

First impression, tertarik sama buku ini karena jadi bahan omongan di base literasi dan entah berapa kali juga selalu muncul di timeline twitter, setiap kali saya sedang membuka aplikasi itu—seakan sengaja biar saya menyerah dan akhirnya beli hahaha. Kata beberapa orang, jangan memberikan ekspektasi terlalu tinggi pada buku ini. Sayangnya, saya malah gagal. Saya memberikan ekspektasi tinggi sebelum saya membaca blurb dari buku ini, dan setelah akhirnya membaca blurb justru ekspektasi saya makin menjulang tinggi 😂

And finally, my expectation make me enjoying for god’s sake!!! “Laut bercerita” merupakan based on true story walaupun tidak secara gamblang dituliskan pada sampul buku ini. Saya suka bagaimana penulis menggunakan POV orang pertama, saya digiring dengan pelan-pelan untuk menyelami kehidupan seorang Biru Laut dan semakin dibuat campur aduk saat saya semakin terperosok pada kedalaman kisah Biru Laut. Sungguh.  

Ini kisah tentang Biru Laut, seorang mahasiswa sekaligus aktivis yang menentang orde baru, tentang mereka yang berjuang terbebas dari kediktatoran, mereka yang memperjuangkan hak-hak rakyat yang direnggut, dan mereka yang hilang karena sebuah rezim yang berkuasa. Ketika kemudian POV beralih ke Asmara Jati (Adik Biru Laut) rasa hampa, penyangkalan, ketidakpastian dari penantian keluarga yang kehilangan seakan bisa ikut saya rasakan. Bagaimana sebuah keluarga yang terus merajut asa, Ayah yang tak pernah luput meletakkan empat piring di meja makan, satu piring untuk dirinya, satu piring untuk sang Ibu, satu piring untuk Asmara Jati, dan satu piring untuk Biru Laut. Sembari menanti dan menanti kedatangan Biru Laut yang mungkin tiba-tiba  berdiri didepan pintu rumah dan menyapa keluarga dengan senyuman seperti biasanya.

 

Ada satu kutipan yang membuat saya  ikut merenung: “Menurut Sang Penyair, kita jangan takut pada gelap. Gelap adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Pada setiap gelap ada terang meski hanya secercah, meski hanya di ujung lorong, demikian ujarnya. Tapi jangan pernah kita tenggelam pada kekelaman. Kelam adalah lambang kepahitan, keputusasaan, dan rasa sia-sia” Hlm. 364.


Satu hal yang saya sesalkan, seharusnya saya baca lamat-lamat, tidak harus diselesaikan sekali duduk 😌

 

 

 

 


Komentar